Selasa, Juli 15, 2008

Bu, Tersenyumlah!

Baru kali ini ada permintaan sangat sederhana tapi kadang sulit dilakukan yaitu TERSENYUM.

Permintaan ini datang dari seorang mahasiswi yang selalu merasa seram dan takut untuk berkonsultasi denganku. Tugasnya memang tidak selesai dalam satu semester, lanjut ke semester berikut pun belum selesai. Jangan tanya kenapa tidak selesai, yang jelas alasan tidak konsultasi denganku adalah karena aku menyeramkan.
Di semester ketiga untuk tugasnya yang sama itu, aku berkesempatan tanya apa yang bisa kulakukan agar tugasnya yang sudah berumur 3 semester itu selesai. Jawabannya adalah: "Ibu cukup tersenyum padaku, supaya aku tidak takut bertemu Ibu". Rasanya ingin meledak tawaku, tapi berhasil kutahan dalam senyuman yang pasti aneh bentuknya. Baiklah, permintaan sederhana itu ku penuhi saat itu juga dan akan kulakukan, yang penting niatku adalah menolongnya agar tugas 3 semester itu selesai.

Ternyata tidak mudah untuk mengatasi masalah non akademis dan non teknis. Kadang kala masalah non akademis dan non teknis justru lebih besar dari pada masalah akademis yang menuntut kemampuan daya pikir. Mahasiswa-mahasiswa itu semua punya kemampuan akademis di atas normal. Hanya saja tidak semua mau menggunakan kemampuan mereka dengan percaya diri. Tidak mau juga disebabkan karena harga yang harus dibayar tidak enak:
  • waktu belajar lebih panjang,
  • membaca buku lebih banyak,
  • berdiskusi dan bertanya dengan dosen [sereem], dan ...
  • menahan diri dari keinginan-keinginan membuang waktu [beratnya jadi mahasiswa!].
Beberapa dari mereka tidak bisa menerima dirinya tidak lebih pandai dari teman-temannya. Padahal ini bukan masalah kepandaian, ini masalah gaya belajar saja. Ada yang tahu bagaimana caranya memasukkan informasi yang baru ke dalam otaknya, ada yang belum tahu, sehingga nyangkut pun tidak.

Kembali ke kisah mahasiswa yang minta senyumku. Sesudah ku terima syarat itu dan ku ingat baik-baik bahwa senyumku akan membuat tugasnya selesai [hebatnya senyumku ini], aku menunggunya setiap kali jadwal konsultasi. Tapi dia tak juga datang, senyumku belum terpakai. Suatu kali dia datang, di akhir-akhir semester dan tidak dijadwal konsultasi. Lalu, aku berikan jadwal konsultasiku yang sudah aku tempel sejak awal semester. Aku tersenyum dan bertanya: "Sudah pernah baca jadwal konsultasi yang saya pasang sejak awal semester?"[DENGAN TERSENYUM]. Seperti yang kuduga, dia belum pernah tahu jadwal itu.

NO COMMENT!!!

2 komentar:

Yafet Daniel Kristian mengatakan...

Hahahaha.. jadi ingat jaman kuliah duluuuu, Yes mam, senyum adalah anugerah bagi kita yang lagi mengerjakan skripsi, its kind like "setetes air di padang gurun" wkwkwkwkwkwkw...
Jafeto
http://japheto.blogspot.com

Darmayanti mengatakan...

hahahahaha.....Bagus jg curhate si mahasiswi itu!!
Tenang aja friend klu dia blm jg nongol utk konsultasi meskipun dikau sdh trsenyum, mungkin dia perlu membiasakan diri dengan perubahan wajahmu yg jd lebih manis :)
Untuk mhs yg minta bu Oti trsenyum. Jgn hny bisa meminta bu Oti trsenyum tp buatlah bu Oti benar2 trsenyum dng hasil skripsimu :)