Sabtu, November 17, 2007

Tebing Terjal itu adalah Skripsi

Setelah mengikuti kuliah selama 6-7 semester maka biasanya tiba saatnya mahasiswa dihadapkan pada tugas terbesar mereka: SKRIPSI. Pada umumnya mereka merasakan kebingungan, ketakutan, ketidakpastian, kebuntuan, dan mungkin kepahitan. Mereka bagaikan lalat yang hinggap dari satu tempat ke tempat lain, mencari sepotong pemahaman, sepotong ide, atau seonggok semangat dari orang-orang yang mereka datangi. Orang-orang ini mungkin dosen, kakak tingkat, pacar yang juga alumni, perpustakaan bagian skripsi, rak-rak buku, atau bahkan dihadapan Google yang kebanyakan ide.

Skripsi seakan tebing terjal yang mereka harus daki. Sebagian mempersiapkan diri dengan berhitung, ada yang bawa beban banyak, dan ada juga yang sibuk mencari jalan pintas pada tebing terjal. Yang terakhir ini berharap ada pintu tembus tersembuyi dibalik tebing terjal itu untuk lewat dengan lenggang kangkung. Selain kelompok-kelompok itu, ada yang baru lihat tebing terjal itu langsung ambil jarak dan termangu dari kejauhan, berharap tebing itu segera berlalu atau hanya mimpi buruk di malam hari yang berakhir ketika bangun.
Tebing terjal itu sebenarnya sudah dilengkapi begitu banyak pijakan-pijakan, mereka yang mau jalani dengan gagah berani akan temukan itu, dan menikmati perjuangan melalui pijakan-pijakan itu.

Perjuangan pada tebing terjal ini adalah masalah menata diri, dan menata hati. Kemampuan akademik mahasiswa setelah kuliah segitu lama tentu saja lebih dari cukup untuk menghasilkan masterpiece di akhir studinya. Hanya saja sering kali kemampuan akademik itu tidak muncul ketika kondisi pribadi, mental tidak mendukung. Tidak terlatih untuk mandiri, berkreasi dan berpikir kritis selama kuliah jadi penghalang. Ini sering akibatkan mundurnya mereka dari tebing terjal, atau terhenti di tengah jalan.

Namun ketika perjuangan keluar dari kondisi pribadi dan mental yang tak mendukung ini berhasil. Maka mereka seperti kupu-kupu yang indah, dan akhirnya melenggang dengan indah di wisuda. Lalu mereka ikut berdendang bersama Duta Voice lagu dari ADA band:

"Teringat masa kecilku kau peluk dan kau manja; Indahnya saat itu buatku melambung di sisiku terngiang ; Hangat nafas segar harum tubuhmu ‘kau tuturkan segala mimpi2 serta harapanmu; Kau ingin ku menjadi yang terbaik bagimu; Patuhi perintahmu jauhkan cobaan; Yang mungkin ku lakukan dalam waktu aku beranjak dewasa ; Jangan sampai membuat ku terbelenggu jatuh dan terinjak; TUHAN tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya; Ku trus berjanji tak kan hianati pintanya; Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu; Kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu ; Andai kan detik itu kan bergulir kembali ; Ku rindukan suasana basuh jiwaku; Membahagiakan aku yang haus akan kasih dan sayangmu ; Tuk wujudkan segala sesuatu yang pernah terlewati "

.oh man... how can I stop my tears from flowing?

3 komentar:

Roderick Adrian mengatakan...

Huaaaa, Skripsi itu terlihat seperti gunung yang belum terlihat puncaknya....

Willy mengatakan...

Hal-hal yang ada di depan kita kadang menjadi sebuah tebing terjal serperti kata Bu Umi. Tapi saya yakin ada juga yang menganggap ini seperti sebuah tantangan melewati arung jeram yang ngeri-seram-asyik dan seru. Kadang diciprat air, kadang terancam terbalik. Tapi kepuasan saat sang Masterpiece lahir merupakan sebuah perasaan yang... Amazing. Bukannya sombong, tapi saya mau menjadi orang dengan opsi kedua saja. Menyerah itu... such a BIG LOSER!

Ochik mengatakan...

hanya satu kalimat yang bisa saya ucapkan, "TETAP SEMANGAT DAN MENGERJAKAN .. !!!!"